13 Jun 2012

Social Gaming vs Community

Berikut ini cuma opini saya pribadi melihat bacaan artikel beberapa hari lalu tentang EA Sports yang sudah mulai mempersiapkan game FIFA untuk konsol generasi terbaru. 

Dari artikel tersebut ada hal-hal yang coba digambarkan oleh pihak EA tentang apa yang akan terjadi dengan konsol generasi terbaru, salah satunya adalah perkembangan konsol yang mengarah pada interaksi user menggunakan media sosial, karena menurut info, fitur yang diunggulkan pada generasi teranyar nanti adalah fitur internet, mulai dari konektivitas, interaktif gameplay, profile sharing, yang semuanya menitikberatkan bagaimana user bisa saling berinteraksi dengan user lain melalui fitur sosial yang ada pada konsol. 

Mungkin bahasa awamnya adalah "gimana caranya membuat Facebook versi konsol kali ya?"

Nah hal ini justru yang membuat saya sedikit prihatin dengan arah perkembangan game konsol ke depan, bayangkan 10 tahun ke depan gamer-gamer hanya akan berinteraksi dengan gamer lain hanya melalui konsol dan layar LCD mereka masing-masing; autism bakal lebih tinggi lagi, setelah FB, Twitter, BB, ditambah konsol apa jadinya dunia ini? Beneran bakal terjadi dunia matrix kayanya ^^

Saya pribadi bukan orang yang tidak suka dengan interaksi sosial via internet, saya sendiri merasa diberkati dengan kehadiran FB, tapi saya melihat justru perkembangannya ke dunia konsol sedikit menghilangkan esensi bermain game karena trending sosial gaming tadi. Game adalah tempat kita mencurahkan pikiran kita untuk mendapatkan hiburan & kesenangan, tapi sosial butuh sesuatu yang berada di luar game yaitu komunitas. Bagaimana di komunitas sesama penggemar game saling berkumpul secara riil, berbagi, dan bertemu. Nah pengembang sekarang justru sangat minim menggarap komunitas secara fisik dalam bentuk event lokal, ataupun event skalanya dunia, karena kecenderungan mereka untuk membentuk komunitas tadi melalui sosial online.

Saya setuju kalo fitur sosial online tadi hanya diarahkan sebagai fitur berbagi informasi antar sesama gamer, tapi jangan sampai menitikberatkan pada interaksi komunitasnya, yang membuat user akan berpikir "Ngapain ngumpul-ngumpul, wong di internet aja uda bisa semuanya"; Harus ada aspek-aspek komunitas yang tetap hanya bisa dijalankan/dilakukan saat offline (atau event). Bagi perusahaan game mungkin ada pertimbangkan 'cost' yang lebih tinggi saat membuat event ketimbang mengembangkan fitur sosial dalam game, tapi kembali lagi saya lebih melihat dari sisi kita sebagai manusia yang perlu berinteraksi dan bertumbuh saat kita bertemu dengan manusia lain, berkomunitas.



Yang mungkin ada pemikiran silakan share ato comment ya, ini cuma sekedar unek2 yang mengganjal buat saya jadi kalo ada masukan atau kritik silakan aja, TQ, GBU ^^ 

2 komentar:

bagoesyasha mengatakan...

wah ada foto Bgs disitu, eksis :p

setuju ama Ko Valent, klw fitur social network mestinya bukan suatu prioritas utama dalam sebuah console game.

contohnya ky game MMORPG yg fitur komunitas/social nya sangat banyak, tp ga menjadikan org yg maen itu menjadi social person karena misalnya ga pernah bertemu dengan komunitas MMORPG tersebut secara langsung.
karena bagaimanapun social network ga akan bisa menggantikan offline community secara utuh :D

Valent MaenBola mengatakan...

Hahaha, iya biar eksis, Gus ^^

Iya nih, baca artikelnya kmr, menyedihkan banget >_< makanya kita hrs lbh aktif nih buat bikin event komunitas ^^ Semangat!